Berikan masukan, kritik, saran, dukungan, berita, laporan warga + apa aja dech yg perlu di ketahui ame warga Depok ke email : walikotagaul@yahoo.com
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2011

Sungai Ciliwung di Depok Makin Tercemar?

DEPOK – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok terus memantau kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) Sungai Ciliwung. Pasalnya, semakin hari semakin banyak limbah yang mencemari sungai yang mengalir ke Ibukota Jakarta itu.

“Kami sudah mengambil sampel air Sungai Ciliwung untuk diteliti di laboratorium. Hal ini perlu karena sumber air Ciliwung merupakan bahan baku untuk PDAM di Kota Depok,” ujar Kepala BLH Kota Depok Rahmat Subagyo, Sabtu (03/09/11).

Ia menambahkan pihaknya masih menguji hasil sampel air tersebut di laboratorium. Sebab, sebelumnya warga wilayah RT 04/02 Kelurahan Pondok Cina mengeluhkan saluran air yang dipenuhi sampah dan airnya berwarna hitam pekat. Saluran itu mengarah ke Sungai Ciliwung.

Menurut Rahmat, air tersebut diduga tercemar limbah domestik seperti limbah rumah tangga dan tempat pencucian pakaian (laundry) seperti air sabun. “Kita tetap mengambil sampel air tersebut untuk diteliti di laboratorium,” tegasnya.

Guna mengatasi pencemaran di Sunagi Ciliwung, dibutuhkan koordinasi antar dinas terkait. Seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda), perangkat kelurahan dan kecamatan serta organisasi peduli lingkungan.

“Mengatasi masalah pencemaran Sungai Ciliwung, BLH tidak bisa bekerja sendiri. Apalagi di sekitar saluran air yang mengarah ke Sungai Ciliwung sudah dipenuhi sampah,” tandasnya.

http://news.okezone.com/read/2011/09/03/338/498395/sungai-ciliwung-di-depok-makin-tercemar

Sabtu, 03 September 2011

Pascalebaran, Sampah Berhamburan di Depok

DEPOK--MICOM: Ssampah di Kota Depok menumpuk pascalebaran. Ironisnya, aparat kebersihan justru libur. Sebagian warga terpaksa membakar sampah yang menumpuk karena mengganggu kesehatan.

Sampah tersebut di dominasi sisa-sisa makanan khas Lebaran, seperti tulang ikan, tulang daging sapi, sayur-sayuran, sari kelapa, ketupat, yang pembungkusnya terbuat dari daun kelapa, dan plastik pembungkus kue-kuean serta makanan khas Kota Depok.

Riyadi, warga Perumahan Tirta Melati RT 006 RW 03 Kelurahan Abadi Jaya, Sukma Jaya, Kota Depok mengatakan warga di lingkungan perumahan setempat terpaksa membakar sampah di bak karena aparat kebersihan libur. Warga mengkhawatirkan kalau terus dibiarkan menumpuk dapat menimbulkan penyakit.

“Sampah yang menumpuk dapat mengganggu kesehatan karena sudah mengeluarkan bau busuk dan banyak lalat beterbangan di lokasi tersebut,“ kata dia, Jumat (2/9).

Warga lainnya, Amroji, mengatakan, sampah tak hanya di kawasan perumahan, tapi juga menumpuk di beberapa ruas jalan seperti Jalan Proklamasi, Kelurahan Abadi Jaya, Sukma Jaya. Tumpukan sampah di Jalan Proklamasi memanjang dari mulai pertigaan Jalan Bahagia Raya menuju ke Jalan Sentosa Raya dan Jalan Kemakmuran Raya, Sukma Jaya.

“Sampah tersebut adalah kebanyakan sampah sayur-sayuran, tulang daging, tulang ikan, dan plastik bekas pembungkus kue-kuean, “ paparnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok harusnya tidak membiarkan sampah bertumpuk-tumpuk karena dampaknya mengganggu kesehatan masyarakat. Selain itu, Pemkot juga memperindah tatanan kota agar menjadi lebih bersih. (OL-8)

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/09/09/256038/38/5/Pascalebaran_Sampah_Berhamburan_di_Depok

Sabtu, 18 Juni 2011

Uji Emisi Sebabkan Kemacetan di Depok

Metrotvnews.com, Depok: Kementerian Lingkungan Hidup menggelar uji emisi gratis kendaraan bermotor di Depok, Jawa Barat, Jumat (17/6) pagi. Sayangnya, uji emisi itu dilakukan disaat jam sibuk, sehingga menyebabkan kemacetan.

Uji emisi yang diperuntukkan bagi kendaraan pribadi maupun angkutan perdagangan itu digelar di tepi jalan di depan pusat perbelanjaan. Namun, proses uji itu menyebabkan kemacetan karena digelar di saat lalu lintas dalam kondisi padat. Meski sejumlah polisi lalu lintas diturunkan untuk menertibkan lalu lintas, upaya itu tak membantu mengurai kemacetan.

Sementara itu, pihak penyelenggara tak mau memberi keterangan mengenai jumlah kendaraan yang mengikuti ujian. Bahkan, beberapa pemilik kendaraan mengaku bersedia ikut karena dipaksa petugas.(****)

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/06/17/130384/Uji-Emisi-Sebabkan-Kemacetan-di-Depok

Kualitas Udara di Margonda Kota Depok Buruk

Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup Kota Depok, Kania mengungkapkan, kualitas udara atau kadar oksidan (O3) di kawasan Jalan Margonda Kota Depok, Jawa Barat dalam kondisi buruk.

"Buruknya kualitas udara berdasarkan hasil penelitian terhadap asap kendaraan bermotor di kawasan sekitar terminal Depok," katanya di Depok, Kamis (16/6/2011).

Buruknya kadar oksidan tersebut mempengaruhi udara disekitarnya. "Seharusnya kadar oksidan mencapai 235 sedangkan Jalan Margonda mencapai 354," ucapnya.

Oksidan (O3) merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat sebagai pengoksidasi.

Oksidan adalah komponen atmosfir yang diproduksi oleh proses fotokimia, yaitu suatu proses kimia yang membutuhkan sinar matahari mengoksidasi komponen-komponen yang tak segera dioksidasi oleh oksigen.

Menurut dia, kadar oksidan yang tinggi tersebut belum bisa dikatakan membahayakan bagi kesehatan karena harus ada kajian lebih lanjut lagi.

Dikatakan, untuk mengurangi tingginya kadar O3, pihaknya telah mengupayakan adanya penghijauan di Margonda.

"Penghijuan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kadar oksidan," katanya.(er/at)

http://www.berita8.com/read/2011/06/17/2/43812/Kualitas-Udara-di-Marg
onda-Kota-Depok-Buruk

Kamis, 16 Juni 2011

Buang Sampah Sembarangan, 5 Warga Depok Ditangkap

DEPOK – Tim gabungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok bersama Babinsa dan Babinkamtibmas beserta Kecamatan Tapos, menggelar operasi yustisi sampah dini hari tadi. Dari hasil operasi, terjaring lima warga yang terbukti tengah membuang sampah sembarangan.

Kelima warga tersebut di antaranya Muhamaddin warga Sukatani, Pranowo warga Ciherang, Saji warga Kebayunan, Hikmatullah warga Jatijajar, dan Makmur warga Sindangherang. Kelimanya ditangkap karena ketahuan tengah membuang sampah dan membawa kantong plastik besar.

Operasi dilakukan di tiga lokasi, yakni Jalan Raya Cilangkap, Kebayunan, dan Jalan Pekapuran. Kelima warga yang ditangkap umumnya sengaja membuang sampah di sembarang tempat saat akan berangkat kerja.

Camat Tapos Taufan Abdul Fatah mengatakan, umumnya mereka yang tertangkap memang sudah langganan membuang sampah di tempat tersebut. Rata–rata mereka membuang sampah di pinggir jalan sehingga mengakibatkan timbulnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar.

“Ada yang naik mobil, ada yang naik motor, ada yang kabur tidak tertangkap, di Jalan Cilangkap dan Pekapuran kabur dan tak tertangkap, saat lihat ada petugas balik arah,” katanya kepada wartawan, Selasa (15/06/11).

Taufan menambahkan, kelima warga yang ditangkap berstatus sebagai karyawan, pedagang, dan guru. Mereka, kata dia, diharuskan menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan wajib lapor ke kantor Kecamatan.

“Karena sudah melanggar perda 14 tahun 2001 tentang ketertiban umum, ke depan akan dilakukan tindak pidana ringan (tipiring), kurungan minimal 3 bulan dan denda Rp1,5 juta,” jelasnya.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, kecamatan lainnya mengikuti Kecamatan Tapos untuk membentuk satgas sampah. Hal itu, kata dia, dilakukan untuk mengubah dan menyadarkan masyarakat dari pola perilaku yang seringkali membuang sampah sembarangan.

http://news.okezone.com/read/2011/06/15/338/468655/buang-sampah-sembarangan-5-warga-depok-ditangkap

Kamis, 09 Juni 2011

Pintu Air Sungai Ciliwung-Cisadane Ambrol

Ilustrasi
Ilustrasi
DEPOK - Pascahujan deras yang mengguyur Depok selama sepekan terakhir, pintu air Sungai Ciliwung-Cisadane yang terletak di RT 01/01, Grogol, Limo, Depok, ambrol.

Pintu air yang dibangun sejak 1933 pada saat zaman Belanda kemungkinan sudah tak mampu lagi menahan debit air hujan. Selama ini pintu air tersebut digunakan untuk mengaliri lahan irigasi 60 hektar sawah milik petani.

Akibat ambrolnya pintu air, lahan sawah kekeringan tak bisa lagi dialiri air.

“Bangunan ini kan dibangun tahun 1933, tentu ada kerapuhan kan, dengan aliran air yang cukup deras belakangan ini, tentunya kondisi yang sudah rapuh ini tak bisa tertahan lagi, akhirnya jadi ambrol, dan ini merugikan para petani yang ada ke sebelah kiri tanggul,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok, Yayan Aryanto, Rabu (08/06/11).

Yayan menambahkan, jika pintu air tidak segera diperbaiki maka akan berdampak luas, salah satunya menyebabkan longsor. Karena itu, Balai Sungai Ciliwung Cisadane Propinsi Jawa Barat hari ini meninjau lokasi ambrolnya pintu air.

"Saya sudah sampaikan kepada staf yang meninjau dari BSCC Provinsi Jawa Barat dan saya juga akan menelpon pimpinannya agar pintu air segera diperbaiki, kami terganjal dana untuk memperbaiki pintu air. Diperkirakan dana yang dibutuhkan di atas Rp500 juta," tandasnya.

Sementara itu, terlihat sejumlah warga sedang berusaha mengalirkan air sungai tersebut ke saluran irigasi dengan menggunakan pipa paralon.

http://news.okezone.com/read/2011/06/08/339/466061/pintu-air-sungai-ciliwung-cisadane-ambrol

Uruk Bantaran Kali Ciliwung : | More Pembangunan Perumahan Taman Anyelir Resahkan PenduduPembangunan Perumahan Taman Anyelir Resahkan Penduduk Sekitar


Pembangunan Perumahan Taman Anyelir Resahkan Penduduk Sekitar

DEPOK (Pos Kota) – Warga sekitar Perumahan Puri Mulya RT 3 RW8, Kel. Kalimulya, Kec. Cilodong Kota Depok, Rabu (8/6) menuntut pertanggung jawaban dari PT. Surya Inti Propertindo selaku pengembang Perumahan Taman Anyelir III atas pengurukan Bantaran Kali Ciliwung.

Topik, 37, wartawan senior dari TVRI sebagai perwakilan warga dari komplek perumahan wartawan mengatakan akibat dari pengurukan mendekati garis sepadan sungai hanya 4- 10 meter terancam longsor jika hujan turun.

“Jika pekerjaan terus dilakukan terhadap pengurukan tanah kita minta pertanggung jawaban pihak pengembang atas perusakan lingkungan yang dilakukannya,” kata Topik mengaku kepada Poskota .

Pada bulan Oktober 2010, Kepala Dinas Tarkim Rendra Fristoto menyatakan, perumahan Taman Anyelir III tidak memiliki IMB, tapi hanya memiliki Izin Pemanfaatan Ruang (IPR).

Topik menyatakan, sawah dan dua rawa yang ada di sana oleh pihak pengembang Taman Anyelir III sudah diratakan menjadi tanah dan membuat peninggi di bantaran kali Ciliwung, sehingga jika hujan turun, aliran air langsung merembes ke tanah dan terjadi patahan pada tanah dan berpotensi longsor dekat di RW 4 dan RW 8.


”Pengambilan tanah untuk pengurukan juga punya dampak serius. Ada rumah warga jadi seperti panggung, karena tanah di sekitarnya dikeruk. Mereka khawatir sewaktu-waktu terancam longsor,” paparnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Asmawi, 50, warga Jalan H. Tabrani. RT 3 RW4, yang menolak terjadi pengurukan tanah warga yang setinggi 6 meter.

Selain itu, katanya, akses jalan umum yang digunakan warga akan ditutup diratakan menjadi tanah. “Sebelumnya ketua RT 2 dan RT 3 dimintai tanda tangan tanpa mengetahui maksud dari penandatangan tersebut untuk apa,” ujarnya.

Toni juga menolak jika perumahan Taman Anyelir III meneruskan pengurukan tanah warga berdampak atas kerusakan ekosistem lingkungan yang ada.

“Pengembang ini sudah menyalahi aturan, diantaranya tidak memperhatikan kajian lingkungan. Apalagi, ini kan daerah resapan air yang seharusnya harus diperhatikan. Kalaupun di bangun, ya, seharusnya mencari wilayah pengganti untuk resapan air,” terangnya.


4 KALI DIPERINGATI

Sementara itu Satpol PP Kota Depok menyatakan, pihaknya sudah menurunkan surat peringatan sebanyak 4 kali tapi tidak digubris oleh pihak pengembang dan masih melakukan pekerjaan. Oleh karena itu lahan yang dijadikan pengurukan kini disegel.

“Kita sudah melakukan penyegelan untuk menutup blok yang dijadikan pengurukan karena sudah melanggar peraturan yang ada,” ujar Diki Erwin, Kasi Pengendalian dan Operasional Satpol PP kota Depok. – Angga

Foto: Satpol PP menyegel blok perumahan Taman Anyelir III sebagai tempat pengurukan di atas bantaran kali Ciliwung. Angga

Rabu, 08 Juni 2011

Depok Gagal Lagi Raih Adipura

DEPOK, KOMPAS.com - Kota Depok tahun ini kembali gagal meraih adipura. Kegagalan sudah diyakini sebagian masyarakat karena minimnya kampanye kebersihan. Program pengolahan sampah yang dijalankan Pemerintah Kota Depok belum berjalan efektif.

"Tahun ini standar penilaian cukup berat. Tidak hanya bersih dan hijau, namun juga dilihat pencemaran udara dan air. Titik pantau tahun lalu sudah ditentukan, sekarang tim penilai menilai tempat yang mereka inginkan," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Depok Rachmat Subagio, Selasa (7/6/2011) di Depok.

Nilai titik pantau lama di Depok nilainya meningkat, namun titik pantau baru yang dipilih tim penilai menurun. Penilaian pertama, dari tiga penilaian yang ada sebesar 67. Nilai ini cenderung stagnan, tidak naik dan tidak turun. Depok akan meningkatkan kampanye kebersihan dengan melibatkan unsur masyarakat sebanyak-banyaknya.

"Salah satu pihak yang akan kami ajak kerjasama adalah Iwan Fals," katanya.

Sahrul Polontalo, anggota Tim Penggerak Adipura Depok mengatakan nilai kurang Kota Depok ada di keterlibatan masyarakat yang minim. Persiapan untuk meraih adipura hanya dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta Badan Lingkungan Hidup (BLH).

"Masyarakat belum banyak terlibat, kebersihan hanya dilakukan aparat pemerintah saja," kata Sahrul. Nilai pengurang lain adalah minimnya upaya pemilahan sampah. Pemilahan hampir tidak ada di tempat pembuangan sampah. Padahal, Pemkot Depok menjalankan program unit pengolah sampah sejak tahun 2007.

Meski sudah beroperasi 18 UPS, pengolahan sampah belum efektif. Sebagian besar sampah tetap dibuang ke tempat pembuangan akhir Cipayung.

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/06/07/20321089/Depok.Gagal.Lagi.Raih.Adipura

Rabu, 01 Juni 2011

Heri dan Konservasi Situ di Depok


Oleh: R Adhi Kusumaputra, Kompas

Awalnya, Heri Syaefudin (38) penasaran melihat areal sempadan situ atau danau di seputar Kota Depok, Jawa Barat, dibiarkan menganggur dan ditumbuhi semak belukar. Mengapa sempadan situ tidak dimanfaatkan menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias yang dapat menghasilkan uang?

Heri memulainya dari Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan. Dia melihat Situ Pengasinan nyaris lenyap karena berubah menjadi empang dan sawah, bahkan nyaris diuruk menjadi perumahan oleh pengembang.

Perusakan lingkungan di Situ Pengasinan dapat dihindari ketika pada tahun 2003 Wali Kota Depok (waktu itu) Badrul Kamal meminta petugas Dinas Pekerjaan Umum mengeruk danau seluas 6,5 hektar itu sehingga Situ Pengasinan kembali pada fungsinya. Di sekitar situ, dalam jarak 50 meter, harus menjadi ruang terbuka hijau dan tidak diperbolehkan ada bangunan permanen.

Tahun 2004, Heri membeli tanah seluas 3.000 meter persegi di tepi Situ Pengasinan. Saat itu di sempadan situ dipenuhi semak belukar. Dengan tekad yang kuat, Heri mengubah dan menatanya menjadi tempat yang sedap dipandang. Arealnya tetap menjadi bagian dari lanskap danau. Di sana ada kolam ikan, penuh tanaman hias, dan rerumputan hijau.

Heri merangkul warga Kelurahan Pengasinan yang sebelumnya bertani untuk memanfaatkan danau yang saat itu telanjur jadi sawah dan empang. Setelah danau dikembalikan pada fungsinya, Heri mengajak warga menjadi petani tanaman hias.

Tentu saja, tidak dengan seketika warga memenuhi ajakannya. Mereka ragu-ragu dan ingin melihat-lihat dulu. Namun, Heri tidak putus asa dan terus bekerja.

Setelah warga melihat apa yang dilakukan Heri terbukti ada hasilnya, warga Pengasinan dan warga kelurahan lain di Sawangan ramai-ramai mengikuti ajakannya untuk bertanam tanaman hias.

Sampai akhir tahun 2006 ini, ada sekitar 500 orang menjadi petani tanaman hias dan 100 lainnya menjadi pedagang yang memiliki kios di sepanjang Jalan Raya Bojongsari (Sawangan)-Ciputat. Mereka tergabung dalam tujuh kelompok tani dan koperasi.

Heri, anak petani yang lahir pada 22 Juli 1968, mengenyam pendidikan di SMP Grabag, Magelang, Jawa Tengah, dan SMAN I Temanggung. Heri hijrah ke Jakarta tahun 1988, menyelesaikan pendidikan di Akademi Lanskap Jakarta dengan tugas akhir tentang konsep penataan sempadan situ pada tahun 1992. Setelah bekerja sebagai pekerja lanskap di berbagai tempat, Heri pindah ke Sawangan, Depok, tahun 2002.

Menurut Heri, pada saat itu perdagangan tanaman hias sudah ada di Sawangan, tetapi jenisnya tidak bervariasi. Hanya palem dan rumput. Petaninya pun tak bertambah.

Kini, Heri merasa bangga karena cita-citanya memberdayakan masyarakat Sawangan ada hasilnya. Sekarang, penghasilan seorang petani tanaman hias rata-rata Rp 3 juta sampai Rp 15 juta per bulan. “Setidaknya anak-anak muda yang dulu kerjanya cuma nongkrong kini mempunyai pekerjaan dan penghasilan,” ungkap Heri.

Bu’an (41), warga Pengasinan, misalnya, mengaku awalnya ragu mengikuti ajakan Heri. Namun, setelah usaha peternakan lele dan ayamnya bangkrut, ia beralih menjadi petani tanaman hias. Dari usahanya itu, kini dia mampu menguliahkan anaknya di Bogor. “Tetangga saya pedagang bubur, mengerjakan usaha tanaman hias ini secara sambilan dan mendapat penghasilan lumayan,” tuturnya.

Dilirik perbankan

Yang juga membanggakan Heri, konsepnya membangun Sawangan menjadi kawasan agropolitan berbasis tanaman hias didukung kalangan perbankan. Melalui program Perbankan Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri, setiap petani bisa mendapat kredit bank dengan bunga 6-8 persen per tahun.

Usaha Heri memberdayakan warga Pengasinan ini mendapat perhatian tim Program Pendanaan Kompetensi Indeks Pembangunan Manusia ((PPK IPM) Jawa Barat. Daerah ini akan dibangun dengan dana PPK IPM sebagai daerah pertanian tanaman hias. Setidak-tidaknya jalan tanah menuju lokasi Situ Pengasinan diharapkan dapat segera diaspal.

Heri pun melihat usahanya tidak sia-sia karena Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il peduli terhadap upaya pelestarian lingkungan, sekaligus upaya memberdayakan masyarakat sekitar itu. “Kalau Situ Pengasinan berhasil menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias, danau ini bisa menjadi proyek percontohan bagi 30-an danau lainnya yang ada di seputar Kota Depok,” ujarnya.

Suami dari Santi Widya (32) dan ayah dari dua anak itu berpendapat, seharusnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membantu program penyelamatan lingkungan di daerah pinggirannya itu. Kalau DKI membantu menyelamatkan situ-situ di Kota Depok, Jakarta akan terhindar dari kekeringan di musim kemarau dan tidak kebanjiran di musim hujan.

http://konservasisitudepok.wordpress.com/artikel-situ/r-adhi-kusumaputra/

Sumber: http://www.opensubscriber.com/message/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/