Berikan masukan, kritik, saran, dukungan, berita, laporan warga + apa aja dech yg perlu di ketahui ame warga Depok ke email : walikotagaul@yahoo.com
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

"ORANG2 BAIK" DAN PEMILU 2014



Jelang Pemilu/Pileg 2014, masyarakat di untungkan dgn banyaknya "orang2 baik" yg tiba2 begitu peduli terhadap persoalan di masyarakat. Orang sakit/meninggal yg biasanya kebingungan urus biaya atau sekedar mobil ambulan, segera di datangi untuk di kasih bantuan oleh "orang2 baik" ini. Para "orang baik" ini bahkan seperti berlomba-lomba membantu warga, alhamdulillah dech, ternyata pesta demokrasi 5 tahunan melahirkan banyak "orang2 baik", bukan sekedar menguntungkan tukang stiker, tukang bendera, tukang sablon, bandar kaos dan bandar massa. "orang2 baik" ini jg seperti tahu dan bahkan "merasa" tahu dgn kebutuhan warga, makanya beberapa dr mereka jg rajin bikin acara bagi sembako buat warga karena "merasa" tahu warga kekurangan sembako. Kegiatan lainnya biasanya adalah fogging(pengasapan sarang nyamuk), seringkali "orang2 baik" ini juga jadi lebih rajin ikut kerja bakti, padahal dulunya gak pernah kerja bakti .. hehehe .. kemudian ada jg yg bagi2 seragam/perlengkapan sekolah, pokoknya banyak lg dech kegiatan "orang2 baik" ini yg bermanfaat buat warga. Tak lupa di setiap acara, wartawan pun di undang untuk meliput kegiatan "orang2 baik" ini. "orang2 baik" ini adalah bakal calon legislatif (bacaleg)/calon legislatif dr beberapa partai peserta pemilu 2014 yg sedang menarik simpati warga agar memilihnya dlm pemilu 2014 nanti atau bahkan sekedar meningkatkan elektabilitas (buat bacaleg nih) untuk meyakinkan parpolnya agar meloloskan sbg caleg (DCT=Daftar Calon Tetap). Apapun ceritanya, toh "orang2 baik" ini menguntungkan warga, apa yg di perbuatnya bermanfaat buat warga, masalah pilihan politik warga khan adanya di bilik suara di hari Pemilu 2014 yg akan datang. ayo lanjutkan berbuat baik, wahai "orang2 baik". lanjutkan dan sukseskan DEPOK BERBAGI. @walikotagaul

Jumat, 09 September 2011

Mengkaji Dampak Keberadaan Universitas Indonesia terhadap Kota Depok dan Masyarakat Sekitar UI


Tidak disangka-sangka, Kota Depok yang dulu didominasi oleh perkebunan karet kini menjadi salah satu kota penyangga Ibu Kota Negara yang pesat pertumbuhannya. Memiliki salah satu universitas terbaik di Indonesia -Universitas Indonesia (UI)- di dalamnya, membuat beragam percepatan pembangunan terjadi di kota ini. Namun, apakah keberadaan UI ini benar-benar berdampak positif dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat “kecil” yang tinggal di sekitar UI, seperti Kukusan Teknik (Kutek), Kukusan Kelurahan (Kukel), Pondok Cina (Pocin), dan Belakang Rel (Barel)?

Merujuk pada situs resmi Pemerintah Kota Depok, Depok yang berada di bawah Pemerintah Republik Indonesia resmi berdiri pada tahun 1981. Pada masa itu Depok masih berbentuk Kota Administratif, periode tersebut berlangsung selama 17 tahun dan pada periode inilah kampus Universitas Indonesia dibangun, tepatnya pada tahun 1987. Baru pada tanggal 27 April 1999, Depok berubah dari Kota Administratif Depok menjadi Kotamadya Depok. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh semakin pesatnya perkembangan kota dari berbagai aspek sehingga masyarakat menuntut perubahan status kota Depok agar pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal. Di kemudian hari terbukti bahwa perubahan bentuk itu membawa banyak perubahan di segala aspek.

Ketika UI Mulai “Tumbuh,” Awal Arus Migrasi

Seperti telah dijabarkan sebelumnya, Kampus UI Depok dibangun pada masa periode Kota Administratif. Tidak berlebihan rasanya apabila dikatakan pembangunan Kota Administratif Depok kala itu ditemani pula oleh pertumbuhan dan pembangunan UI sehingga pertumbuhan keduanyasaling bersinergi.

Menurut Omas Bulan Samosir, Peneliti Lembaga Demografi dan Dosen FEUI, “Adanya UI mendorong aliran migrasi masuk dari luar Kota Depok ke dalam Kota Depok.” Para imigran yang bermigrasi menuju Depok memiliki banyak motif, mulai dari menjadi mahasiswa di UI, hingga mencari nafkah di Depok. Logikanya, ketika penduduk semakin padat, kebutuhan masyarakat akan bahan pokok pun semakin meningkat, hal ini yang membuat masyarakat banyak berpikir bahwa akan ada banyak kesempatan terbukanya lapangan kerja di Depok.

Mendongkrak Perekonomian


Divisi Penelitian BO Economica melakukan penelitian dengan 89 responden dipilih berdasarkan random sampling di sekitar wilayah Kukusan Teknik, Kukusan Kelurahan, Pondok Cina, Barel dan Kober untuk melihat dampak berdirinya UI terhadap masyarakat di sekitar UI, ditinjau dari segi sosial, lingkungan, dan ekonomi. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa 77% responden bukan merupakan penduduk asli kota Depok (Diagram 1). Responden yang kami wawancarai menyatakan bahwa kini pemukiman penduduk asli telah tergeser semakin ke belakang, sedangkan rumah-rumah kos serta toko-toko yang ramai berjajar di daerah yang langsung berbatasan dengan UI merupakan milik kaum pendatang.

Dalam diagram selanjutnya dapat dilihat beberapa alasan para pendatang memilih untuk pindah ke sekitar UI, yaitu karena alasan pekerjaan, ikut keluarga, mencari pekerjaan, dan lain-lain (Diagram 2). Dapat disimpulkan bahwa pekerjaan menjadi alasan utama responden pindah ke sekitar UI.


Dalam kerangka ekonomi, keberadaan UI yang mendorong pertambahan penduduk ini akan menimbulkan efek multiplier. Adanya peningkatan jumlah penduduk menimbulkan peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa sehingga memunculkan penawaran dari berbagai produsen, yang pada akhirnya menggerakan bermacam kegiatan ekonomi untuk menyelaraskan permintaan dan penawaran pada masyarakat Depok. Hal ini secara otomatis menciptakan lapangan kerja baru dan menstimulasi arus modal masuk ke Kota Depok. Roda perekonomian yang berputar cepat mengubah struktur perekonomian Depok yang awalnya didominasi oleh perkebunan dan pertanian, kini didominasi oleh sektor perdagangan barang dan jasa.


Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 74 persen atau hampir dari tiga per empat responden yang kami wawancarai menyatakan keberadaan UI memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan pendapatan mayarakat sekitar, hal ini disebabkan karena adanya UI memicu terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi para pencari kerja, seperti kos-kosan, rumah makan, warnet, dll. Di sisi lain hanya 1 persen responden menilai keberadaan UI memiliki efek negatif terhadap tingkat pendapatan. Sisanya sebanyak 25% responden menilai keberadaan UI tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan tingkat pendapatan atau sama saja (Diagram 3).


Semakin tingginya intensitas kegiatan perekonomian menjadi sinyal bahwa pendapatan dan kesejahteraan penduduk Depok meningkat. Dengan bertambahnya pendapatan penduduk, penerimaan Pemerintah Depok dari pajak penghasilan mau tidak mau ikut meningkat. Dengan begitu, pengeluaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur pun bisa ditambah. Dampaknya, selain kegiatan perekonomian semakin lancar, kesejahteraan warga Depok juga ikut terangkat. Perbaikan infrastruktur ini juga dirasakan oleh Suwandi, 40 tahun, warga Depok yang telah menetap sejak tahun 1994, “Meskipun sekarang tidak jarang dijumpai lubang-lubang di jalan, tetap saja sudah jauh berbeda dengan kondisi jalan tahun 1994.” Sebanyak 80% responden menyatakan bahwa ketersediaan fasilitas publik di Kota Depok kian membaik semenjak keberadaan UI. Hanya 6% responden yang menyatakan lebih buruk dan sisanya menyatakan bahwa keberadaan UI tidak memberikan pengaruh apa pun terhadap ketersediaan fasilitas publik di Kota Depok (Diagram 4).

Pengabdian Masyarakat Versi Universitas Indonesia

Bachtiar Alam, Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI, menjelaskan bahwa visi dan misi DRPM UI disesuaikan dengan visi dan misi UI sendiri, yakni menjadi world class research university. Akan tetapi bukan berarti pihak UI menomor dua-kan fungsinya yang kedua: Pengabdian Masyarakat.

Menurut Bachtiar, bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh pihak UI merupakan penerapan dari riset-riset yang telah dilakukan terlebih dahulu oleh dosen atau mahasiswa UI. Masalah muncul saat masyarakat yang berada di Kutek,Kukel, Pocin, dan Barel, ternyata mengharapkan UI memberi bantuan langsung kepada masyarakat tanpa birokrasi yang sifatnya memperpanjang bantuan tersebut bisa sampai pada mereka. Program yang diinginkan masyarakat misalnya penyuluhan kesehatan, penyediaan sekolah bagi masyarakat kurang mampu, dan hal-hal yang sifatnya bebas biaya.

Pada kenyataannya, pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh UI tidak terkonsentrasi pada masyarakat di sekitar UI saja, namun juga diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Salah satu bantuan yang diberikan adalah hasil riset terapan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kelangsungan hidup masyarakat. Tabel 1 menunjukkan sebaran cakupan wilayah hibah pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia pada tahun 2010 dimana mayoritas program terlaksana masih dilakukan di wilayah Depok.

Tabel 1

Distribusi Hibah Pengabdian Masyarakat Berdasarkan Cakupan Wilayah (2010)

Kota Jumlah Program Terlaksana
Depok 54
Jakarta 20
Maluku 1
Yogya 1
Papua 1
Jawa Tengah 6
NTT 1
Kal Bar 1
SumBar 1
Banten 4
Bekasi 3
Jawa Barat 10
Tangerang 1

Bachtiar menjelaskan pengabdian masyarakat yang dilakukan universitas harus dibedakan dengan pengabdian masyarakat yang dilakukan perusahaan. UI adalah lembaga riset. Oleh karena itu, jenis pengabdian masyarakat yang akan dilakukan adalah pengaplikasian riset tersebut dalam kehidupan masyarakat. Itulah mengapa masyarakat sekitar merasa tidak mendapat bantuan langsung dari UI.

Contoh konkret pengabdian masyarakat UI kepada masyarakat Depok adalah pembuatan perkebunan belimbing yang diprakarsai FMIPA UI, sesuai dengan slogan Kota Depok sebagai Kota Belimbing. Selain itu, dibuat pula laboratorium mini di daerah Limo, Depok, agar anak-anak SD bisa melakukan praktikum IPA dengan alat-alat yang memadai.

Sejalankah dengan Versi Masyarakat Sekitar UI?

Terkait dengan kritik yang dilontarkan oleh masyarakat sekitar UI terhadap pengabdian masyarakat yang dianggap minim, Bachtiar meresponnya dengan santai, “Kita harus menerima kritikan dan mawas diri. Tapi saya juga ingin bertanya, sebelum ada UI di Depok, apa hal yang bisa ditonjolkan dari Depok? Pembangunan UI ini juga mengangkat nama Kota Depok yang menyebabkan Depok sendiri ikut bergerak.” Kemudian ia menambahkan, “Dulu wilayah UI ini kebun karet dan karena pembangunan UI, terpaksa para buruh karet itu di-PHK. Untuk menyelesaikan masalah ini, jelas jalan keluarnya bukan merubuhkan UI dan membangun kebun karet lagi. Maka, UI menyediakan perkebunan belimbing, dimana belimbing yang diproduksi adalah belimbing yang lebih enak, lebih berisi, dan tahan hama. Kira-kira seperti itulah keselarasan riset dan pengabdian masyarakat UI.”

Sistematika Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat dalam memutuskan program apa yang akan dibuat untuk masyarakat adalah dengan mengajukan tender kepada dosen-dosen untuk mengadakan riset bersama mahasiswa yang hasilnya bermanfaat bagi masyarakat. Setelah itu, kelayakan proyek tersebut akan dinilai oleh UI. Apabila layak, akan mendapatkan dana hibah sebesar 50 juta rupiah bagi dosen dan mahasiswa tersebut. Total dana yang digelontorkan untuk program pengabdian masyarakat sendiri untuk tahun 2010 lalu adalah sebesar Rp 2,9 milyar yang ditujukan untuk pembangunan di seluruh Indonesia. Angka tersebut hanya sebagian kecil dari seluruh dana riset dan pembangunan masyarakat UI, karena dana resminya sendiri sebesar Rp 1,2 triliun.

“Kita memang tidak bisa memuaskan semua pihak,” Bachtiar mengakui, “tapi UI tetap berusaha memberi yang terbaik, terutama bagi warga yang memang langsung bersentuhan dengan UI. UI tidak mengeksklusifkan diri lho, jadi warga bisa menikmati fasilitas yang ada di UI. Waktu Lebaran pun masyarakat diizinkan untuk shalat Ied di MUI. InI juga salah satu wujud pengabdian masyarakat kepada warga sekitar.” Akhirnya, Bachtiar menutup dengan, “Kritikan ini tujuannya sangat baik, yakni untuk kebaikan UI itu sendiri. Kami akan menindaklanjuti kritikan ini dengan mengkomunikasikannya kepada pihak yang berwenang. Dengan adanya media perantara dari masyarakat sekitar UI dengan pihak UI (pihak EconomicaPapers, red), semoga ke depannya bagian riset dan pengabdian masyarakat bisa memuaskan semua pihak,” harapnya.

Perbedaan paradigma tentang pengabdian masyarakat yang dimaksudkan pihak Rektorat UI dan masyarakat disekitar UI wajar adanya. Pihak Rektorat UI yang memiliki visi sebagai world class research university mengedepankan pengabdian masyarakat berdasarkan riset yang telah dan dilakukan, ditambah lagi dengan cakupan penerapan riset yang dilakukan bukan hanya wilayah Depok saja, melainkan seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan apa yang dimaksud dengan pengabdian masyarakat versi masyarakat sekitar UI adalah kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung kepentingan mereka, seperti penyediaan pendidikan dan pembangunan langsung lingkungan di sekitar tempat mereka tinggal.

Niatan untuk berkontribusi pada pembangunan Indonesia secara keseluruhan tentunya merupakan niat yang sangat mulia. Tapi ada baiknya jika kontribusi itu dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan wilayah kampus kita sendiri. Menjalin komunikasi yang baik antara pihak universitas dan masyarakat tentu suatu hal yang mutlak untuk dilakukan agar kritik mengenai eksklusivitas UI, tak lagi terlontar.

(Bayu Tegar Perkasa, Pungky Agusta, Alia Noor Anoviar, Desi Sri Wahyu Utami, Al Khansa Shalihah, dan Arlita Puspawati)

*tulisan dimuat dalam rubrik Tulisan Utama pada Economica Papers 51

Sumber : http://penerbitanboe.wordpress.com/2011/07/02/mengkaji-dampak-keberadaan-universitas-indonesia-terhadap-kota-depok-dan-masyarakat-sekitar-ui/

Rabu, 01 Juni 2011

Heri dan Konservasi Situ di Depok


Oleh: R Adhi Kusumaputra, Kompas

Awalnya, Heri Syaefudin (38) penasaran melihat areal sempadan situ atau danau di seputar Kota Depok, Jawa Barat, dibiarkan menganggur dan ditumbuhi semak belukar. Mengapa sempadan situ tidak dimanfaatkan menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias yang dapat menghasilkan uang?

Heri memulainya dari Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan. Dia melihat Situ Pengasinan nyaris lenyap karena berubah menjadi empang dan sawah, bahkan nyaris diuruk menjadi perumahan oleh pengembang.

Perusakan lingkungan di Situ Pengasinan dapat dihindari ketika pada tahun 2003 Wali Kota Depok (waktu itu) Badrul Kamal meminta petugas Dinas Pekerjaan Umum mengeruk danau seluas 6,5 hektar itu sehingga Situ Pengasinan kembali pada fungsinya. Di sekitar situ, dalam jarak 50 meter, harus menjadi ruang terbuka hijau dan tidak diperbolehkan ada bangunan permanen.

Tahun 2004, Heri membeli tanah seluas 3.000 meter persegi di tepi Situ Pengasinan. Saat itu di sempadan situ dipenuhi semak belukar. Dengan tekad yang kuat, Heri mengubah dan menatanya menjadi tempat yang sedap dipandang. Arealnya tetap menjadi bagian dari lanskap danau. Di sana ada kolam ikan, penuh tanaman hias, dan rerumputan hijau.

Heri merangkul warga Kelurahan Pengasinan yang sebelumnya bertani untuk memanfaatkan danau yang saat itu telanjur jadi sawah dan empang. Setelah danau dikembalikan pada fungsinya, Heri mengajak warga menjadi petani tanaman hias.

Tentu saja, tidak dengan seketika warga memenuhi ajakannya. Mereka ragu-ragu dan ingin melihat-lihat dulu. Namun, Heri tidak putus asa dan terus bekerja.

Setelah warga melihat apa yang dilakukan Heri terbukti ada hasilnya, warga Pengasinan dan warga kelurahan lain di Sawangan ramai-ramai mengikuti ajakannya untuk bertanam tanaman hias.

Sampai akhir tahun 2006 ini, ada sekitar 500 orang menjadi petani tanaman hias dan 100 lainnya menjadi pedagang yang memiliki kios di sepanjang Jalan Raya Bojongsari (Sawangan)-Ciputat. Mereka tergabung dalam tujuh kelompok tani dan koperasi.

Heri, anak petani yang lahir pada 22 Juli 1968, mengenyam pendidikan di SMP Grabag, Magelang, Jawa Tengah, dan SMAN I Temanggung. Heri hijrah ke Jakarta tahun 1988, menyelesaikan pendidikan di Akademi Lanskap Jakarta dengan tugas akhir tentang konsep penataan sempadan situ pada tahun 1992. Setelah bekerja sebagai pekerja lanskap di berbagai tempat, Heri pindah ke Sawangan, Depok, tahun 2002.

Menurut Heri, pada saat itu perdagangan tanaman hias sudah ada di Sawangan, tetapi jenisnya tidak bervariasi. Hanya palem dan rumput. Petaninya pun tak bertambah.

Kini, Heri merasa bangga karena cita-citanya memberdayakan masyarakat Sawangan ada hasilnya. Sekarang, penghasilan seorang petani tanaman hias rata-rata Rp 3 juta sampai Rp 15 juta per bulan. “Setidaknya anak-anak muda yang dulu kerjanya cuma nongkrong kini mempunyai pekerjaan dan penghasilan,” ungkap Heri.

Bu’an (41), warga Pengasinan, misalnya, mengaku awalnya ragu mengikuti ajakan Heri. Namun, setelah usaha peternakan lele dan ayamnya bangkrut, ia beralih menjadi petani tanaman hias. Dari usahanya itu, kini dia mampu menguliahkan anaknya di Bogor. “Tetangga saya pedagang bubur, mengerjakan usaha tanaman hias ini secara sambilan dan mendapat penghasilan lumayan,” tuturnya.

Dilirik perbankan

Yang juga membanggakan Heri, konsepnya membangun Sawangan menjadi kawasan agropolitan berbasis tanaman hias didukung kalangan perbankan. Melalui program Perbankan Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri, setiap petani bisa mendapat kredit bank dengan bunga 6-8 persen per tahun.

Usaha Heri memberdayakan warga Pengasinan ini mendapat perhatian tim Program Pendanaan Kompetensi Indeks Pembangunan Manusia ((PPK IPM) Jawa Barat. Daerah ini akan dibangun dengan dana PPK IPM sebagai daerah pertanian tanaman hias. Setidak-tidaknya jalan tanah menuju lokasi Situ Pengasinan diharapkan dapat segera diaspal.

Heri pun melihat usahanya tidak sia-sia karena Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il peduli terhadap upaya pelestarian lingkungan, sekaligus upaya memberdayakan masyarakat sekitar itu. “Kalau Situ Pengasinan berhasil menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias, danau ini bisa menjadi proyek percontohan bagi 30-an danau lainnya yang ada di seputar Kota Depok,” ujarnya.

Suami dari Santi Widya (32) dan ayah dari dua anak itu berpendapat, seharusnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membantu program penyelamatan lingkungan di daerah pinggirannya itu. Kalau DKI membantu menyelamatkan situ-situ di Kota Depok, Jakarta akan terhindar dari kekeringan di musim kemarau dan tidak kebanjiran di musim hujan.

http://konservasisitudepok.wordpress.com/artikel-situ/r-adhi-kusumaputra/

Sumber: http://www.opensubscriber.com/message/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/

Kamis, 29 Juli 2010

MEMILIH DENGAN CERDAS




Dimuat di Harian Monitor Depok, 28 Juli 2010


Oleh: Ikhsan Darmawan*)

“Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud..ya sudahlah…Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai, ya sudahlah…”

Kalimat di atas adalah penggalan lirik dari lagu yang dinyanyikan oleh Bondan Prakoso feat. Fade to Black yang berjudul “Ya Sudahlah…” yang sedang naik daun belakangan ini. Frasa “Ya Sudahlah” yang identik dengan jiwa nrimo barangkali bagi sebagian orang adalah falsafah sekaligus pandangan hidup yang telah lama melekat dan dijalankan sehari-hari karena segala sesuatu yang terjadi dipandang sebagai “cukup”. Permasalahan-permasalahan yang terus menerus membuntuti, seperti misalnya kenaikan harga barang, kemacetan di sana-sini, boleh jadi diterima sebagai sesuatu yang given.

Padahal, jika dipikirkan secara serius, pada hakikatnya, kekuasaan itu terletak pada masyarakat itu sendiri. Legitimasi untuk memerintah yang dipegang oleh pemimpin di suatu daerah hanyalah pemberian kepercayaan oleh mayoritas masyarakat di daerah tersebut, bukan penyerahan kekuasaan sepenuhnya tanpa boleh diganggu gugat oleh masyarakat itu sendiri. Artinya, menyitir Fiorina(1978), masyarakat bisa menggunakan kekuasaannya untuk: mengapresiasi pemerintahan yang sukses memerintah atau “menghukum” pemerintahan yang gagal memerintah untuk satu tujuan, yaitu mewujudkan kondisi masyarakat yang lebih baik. Salah satu dari sekian banyak cara untuk mewujudkannya adalah dengan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum(termasuk Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada)).

Catatan
Erat bertautan dengan hal itu, hasil Pemilukada tahun 2010 di beberapa daerah menunjukkan beberapa poin penting yang perlu menjadi catatan. Pertama, Pemilukada di sejumlah daerah ternyata dimenangkan oleh calon yang memiliki kaitan dengan korupsi. Lebih parahnya lagi, calon-calon kepala daerah tersebut tetap dilantik sebagai kepala daerah. Daerah-daerah yang dimaksud adalah Kabupaten Rembang, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Bengkulu. Eksistensi dari fenomena kemenangan kandidat kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi jelas merupakan hal yang mengkhawatirkan. Alasannya adalah karena bisa dibilang masih terdapat masyarakat yang “gelap mata” dengan background calon yang berkompetisi dalam Pemilukada.

Catatan kedua yakni di beberapa daerah juga ditemukan peningkatan tingkat partisipasi politik masyarakat. Salah satu contohnya adalah di Kota Solo, Joko Widodo, kandidat walikota incumbent, meraih kemenangan sampai sekitar 93 persen. Yang perlu dikritisi kemudian dari seluruh daerah-daerah yang tingkat partisipasi politiknya tinggi tersebut adalah apakah tingkat partisipasi politik yang tinggi itu didasari pada partisipasi masyarakat yang berbasiskan pada kualitas program dan figur atau mungkin sebaliknya dilandasi oleh dasar memilih yang tidak rasional, seperti melihat figur tanpa mempertimbangkan latar belakang sang calon atau bahkan politik uang? Penelitian secara khusus mengenai ini perlu dilakukan agar pertanyaan yang penulis ajukan itu dapat menemukan jawaban yang valid.

Namun, walau bagaimanapun, yang wajib ditelaah adalah bahwa kuantitas pemilih dalam sebuah Pemilukada akan menjadi tidak begitu besar artinya apabila pemilih yang menggunakan hak pilihnya tersebut mayoritas adalah pemilih yang menggunakan hak pilihnya karena didasarkan oleh pertimbangan yang tidak rasional, seperti an sich melihat figur tanpa melihat latar belakang dan kapasitas calon tersebut.

Dalam bahasa lain, Pemilukada hendaknya jangan hanya menjadi pesta pora politik yang tak memiliki makna. Lebih dari itu, Pemilukada haruslah menjadi ruang bagi partisipasi politik masyarakat. Pemilukada haruslah paralel dengan apa yang disebut oleh Bingham Powell Jr. (2000: 3) dengan istilah “elections as instrument of democracy”. Artinya, Pemilu(termasuk Pemilukada) berperan dalam memberikan warga negara pengaruh terhadap pengambil kebijakan.

Cerdas
Benang merah dari kedua poin di atas dan apabila ditautkan dengan pergelaran politik 2010 (Pemilukada) Kota Depok adalah bahwa masyarakat Kota Depok selayaknya dan sepatutnya menggunakan hak pilih dengan cerdas. Artinya, sebelum mencoblos pasangan calon pilihan, minimal program-program kerja dan latar belakang dari para kandidat diperiksa dan dipelajari terlebih dahulu. Tujuannya tidak lain adalah agar: (1) Pemilukada Kota Depok benar-benar merupakan perwujudan dari partisipasi politik masyarakat Kota Depok dan bukan sekedar euforia politik; (2) Masyarakat Kota Depok memperoleh pemimpin Kota Depok yang dapat menangkap, menterjemahkan sekaligus mengimplementasikan aspirasi masyarakat Kota Depok. Oleh sebab itu, berperannya seluruh stakeholders (pemangku kepentingan) di Kota Depok secara maksimal menemukan relevansinya untuk mewujudkan hal ini.

Pada akhirnya, seluruh warga Kota Depok sudah selayaknya memilih calon Walikota yang menjiwai refrain dari lagu Bondan Prakoso feat Fade to Black yang berbunyi “Apapun yang terjadi, ku kan selalu ada untukmu”. Tujuannya tidak lain adalah agar Walikota yang nantinya terpilih adalah Walikota yang “selalu ada untuk warga Kota Depok”.

*) Penulis adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP UI